Thanks to Rizqy Amelia Zein & Jessica Felisa Nilam for Translations. Thank you to Bryna Budiman for story excerpts. Thank you to Deandre Sugandhi and Kevin Sudaryanto for video editing.

#WhatIWishTheyKnew

featured stories

Here are excerpts from featured stories. All these people have explicitly given consent to share their stories publically, and we hope by reading them we can get more of a glimpse of what our loved ones are going through, and understand that we are not alone in our struggles.

Warning, Graphic Content

"

"

" I have to stop myself from thinking self-loathing thoughts or I will soon find myself drowning in self-pity which would snowball into a breakdown where I would feel intense despair, agitation and emptiness.  And to keep on guarding myself like this is tiring and frustrating. What I wish people knew is that I appreciate them whenever they give me affection, though my instinctive response is to shrug them off. What I wish people who are struggling with their mental health is that they are not struggling alone and one important thing, to try and keep getting better. "

 

" I used to be hard on myself. I remember my first day of induction at a Sydney based university. They mentioned Student Services, but I could not recall. When the educational and financial stress hit me, it impacted my grades, and I do not know where to turn to. A fellow student recommended me to see a counsellor on campus. After speaking with the counsellor, I began to put things together and slowly got back on track. I would encourage universities to promote support services.  For the government to have policies to not differentiate international and domestic students to prevent sense of isolation for students like me. "

 

"I’m the type of person who gets panic easily for the smallest thing that I do. I overthink a lot, and it leads me to worry about the smallest thing that I did not thought of, and then I eventually got panic attack. I wish they knew that I hate it when the panic attack hits me.  A time goes by, I learned more about mental health. I wish my parents knew… it’s not as easy as it sounds for me to battle it. I wish they knew instead of getting annoyed… I wish they knew how I hate it and get annoyed when this happened."

 

"I had a close friendship with a guy. He approached me and suddenly left me. I became depressed afterwards, and became high at the same time my friends bullied me. Since then, I was diagnosed as a bipolar. I wish my parents knew how lonely I was, how hurt I was, and how angry I was. I wish they knew that I felt guilty for them having to take care of me and put their life on hold for me. I am thankful for what they did for me the years onwards. I just wish they gave me more space to grow. I wish that anyone who went through similar things like me can have a support system and for them to know God loves them, is with them, and will never ever leave them."

 

" Sejak kecil, hidup saya selalu didikte oleh salah satu adik perempuan ibu saya. Saya sering dikatain durhaka karena hubungan saya dengan ibu saya memang kurang baik. Suatu hari, dia mencecar saya karena revisi skripsi saya belum selesai. Saya tidak punya pilihan lain membiarkan cecarannya mengosongkan pikiran saya. Setelah itu saya mencoba bunuh diri, namun gagal karena saya takut mati. Ketika ibu saya tahu, beliau menangis sedih. Semua ketakutan saya bersumber dari orang itu. Saya berharap mereka, terutama orang itu, tahu betapa bahayanya suatu ucapan dapat mengefek seseorang."

"I study psychology but I never went to one. I am afraid that if I go to one, they will find so much wrong things on me. I was, and still am struggling now, and no one knows it. I can accomplish many things like other people do, and yet I keep wishing to have my life ended soon. I am satisfied with what I have, and yet I can’t say I’m glad to be born. I’m alive and at the same time I’m not. And I wish someone knows."

 

"Saat ini sebagain besar teman-teman saya sudah bergelar sarjana. Sedangkan saya masih bekerja keras untuk skripsi saya dengan topik yang jarang diteliti.  Peer pressure juga saya rasakan ketika melihat teman-teman seangkatan sudah wisuda. Di sisi lain, saya juga memiliki sedikit masalah dengan percintaan dimana saya terjebak friendzone dengan teman dekat saya sendiri.  Karena semua inilah, saya pernah ingin menyerah dan menyudahi semua ini, namun kasih Tuhan membawa saya kembali dan menguatkan diri saya. Saya ingin mereka tahu bahwa saya sedang tidak baik-baik saja saat ini."

 

"Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Saya tidak punya teladan ayah yang baik. Saya sering dibully dari SD, SMP, hingga SMK. Saat kelas 2 SMK, tidak ada cukup uang sehingga tidak cukup untuk membayar SPP. Setelah itu saya bekerja di industry pengolahan beton, lalu menjadi guru les, lalu membuka usaha yang lalu tutup, dan bekerja di pekerjaan cleaning service. Setelah itu saya menjadi OB. Setelah semua pekerjaan ini, saya harus berobat ke psikiater karena ada dorongan untuk bunuh diri. Saya tidak ingin berakhir seperti itu, karena saya tahu saya berharga, dan masa depan saya lebih indah."

 

"Saya sedang masa akhir kuliah dan melakukan skripsi. Pada saat pengajuan judul, saya diusir dari rumah. Perkataan dari mama yang bilang bahwa anaknya lama, lelet. Lalu juga saya tergolong lama menyelesaikan skripsi sehingga keinginan bunuh diripun muncul. Saya mencoba minum obat tiroid dalam jumlah banyak tetapi tak mati.  Dalam waktu ini, saya tetap mengikuti kegaitan organisasi sebagai relawan dibidang social dimana saya sadar tentang indahnya hidup."

 

“I’ve always feared of being close to anyone. This is because I was bullied in school to the point that I don’t trust people. I’m scared that others will hurt me if I get too close so I try to loosen up all my relationships. I constantly have suicidal thoughts. I just wish I have someone I could trust, talk to, in the darkest days.”

 

“Saya di kuliah adalah saya yang 180 derajat berbeda dengan di SMA. Saya tidak ingin jadi anak rajin dan disayang guru karena selalu mengacungkan tangan untuk bertanya maupun menanggapi presentasi. Namun kini tiba saatnya untuk skripsi dan saya mengalami kepanikan yang luar biasa. Saya tidak tahu harus menulis apa dan bagaimana cara mengerjakannya. Saya merasa sendirian. Saya bingung. Saya ingin mati saja rasanya daripada menangung malu. Saya ingin terbebas dari penderitaan ini. Coping saya adalah masturbasi sembari menonton film porno. “

 

“Capek banget dari kelas 9 SMP berusaha nyari uang sendiri buat beli kebutuhan gue sendiri yang gue tau ortu gue ga mau biayain. Gue udah lelah juga pinjemin uang gue buat bayar utang-utang ortu gue yang ga akan pernah lunas. Di sisi lain, gue ingin ortu gue ataupun sodara gue kalau gue juga kekurangan. Gue pengen dihargain. Bahkan gue mau pergi buat reach help juga gak bisa.”

 

“The worst symptoms of my mental illness were delusion and hallucination. I once thought I heard a friend's voice on the phone while there was none. I thought people could read my mind and try to steal my bank account password. I thought people communicated with me through telepathy so I reply to them in my mind. I thought my dad wanted to rape me so I ran away in the middle of the night and almost got raped and have bothered a close friend. I thought never again and began my therapy journey which involves both medications and non-medications.”

 

“I was diagnosed having Borderline Personality Disorder (BPD) in my last year of college which made it extremely difficult for me to finish my undergraduate thesis and seek a first-time job. I just want to highlight the important: having mental issues is inevitable, but what we can do about is as human is to provide therapy, medications, education, etc.”

 

“I wish my parents knew that it has been really hard being their child. Growing up in a family with physically and verbally abuse and also parents' fighting when I was child is something that I wanted not to have. I wish they knew that I was having rough years at school, many people bullied me and I could not make a friend like a normal teen.”

 

“Saya tumbuh di keluarga besar yang menganggap kepintaran dan kekayaan adalah kesuksesan. Hal itu membuat saya merasa sedih dan cemas setiap kali ujian nasional maupun SBMPTN tiba. Lalu, suatu hari saya mendaftar SBMPTN dengan pilihan UI, UI, UIN. Saya terus berdoa dan belajar dengan keras agar masuk UI. Namun, kehendak berkata lain. Saya diterimanya di UIN. Saya sangat lelah dengan kehidupan ini. Saya lelah dengan orang-orang di sekitar saya. Saya lelah belajar. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan kalau ilmu saya ini tidak bisa dipergunakan untuk mengangkat derajat kehidupan keluarga saya. Saya merasa amat tersiksa dan ingin ini semua segera berakhir.”

 

“Saya lelah dengan kondisi politik di Indonesia. Baik di kampus saya yang amat terkenal dengan politiknya maupun negara ini. Setiap hari, instead of bahas ide untuk membangun bangsa, mereka lebih suka memancing konflik dan menciptakan perseteruan. Saya ingin terbebas dari lingkaran setan ini. Sudah banyak sekali orang terdekat saya yang bertengkar karena perbedaan pendapat ataupun termakan hoax. Saya lelah. Saya ingin semua ini cepat berakhir dan situasi menjadi damai.”

 

“My father passed away suddenly on january 2016. Heart attack. I was shocked and devastated. But when i heard the news i felt almost nothing. It feels like i was on autopilot, and i feel like watching everything unfold in 3rd person view. The whole thing messed up my study so bad that i didnt finish on time. Im afraid of sudden change, of people expectation on me, of the future.”

 

“When I first became a parent, things were really tough for me. I hated myself for that. I felt like I was lousy and did not deserve to be a parent because I couldn't handle my emotions. It was hard for me to fall in love with my newborn because I was depressed, and I blamed myself for being so. Not to mention, the fact that I couldn't breastfeed exclusively and didn't really enjoy breastfeeding made me feel like a failure. I wish I realized earlier that everyone is different, and that I can still be an excellent parent even though I don't exclusively breastfeed, and that I need a lot of help in taking care of my child.”

 

“In 3 weeks ago. I had a problem with my neighbour in my boarding house. I just on my silent behind my blanket and cried. I turn off my lamp and cried. I hurt my self. I hit my head and hand to the wall. I felt like i'm nothing. No one can enter my room. Then i asked to psychiatrist and psychologist they said that i was shocked so i've got a depression or it can be called as borderline. After those moment i realize that someone can get a depression in unavoidable moment. Then when they get a diagnose, it's okay. If they should had a treatment. Just do it. Because, we deserve better.”

 

“I had a childhood depression that sometimes haunts my adult life. As a child, I was sexually harassed by my uncle and nobody knew.  The kiss was not an ordinary kiss given to an uncle to his niece. I could still remember there was a desire in it. I felt weird about it. But because everybody liked him, I just let him do it. These experiences made my gloomy childhood. I finally told my parents about it. But the scars stay forever in my soul. I wish my parents hugged me and talked more to me when I was a child.”

 

“This childhood depression contributed to the development of my recent post-partum depression. I yelled at my 2 years-old baby because she didn't want to eat. I scolded her for waking up before the right time. I was overly anxious when she got a fever. I was so afraid of her getting sick. I know that's right, but for a scar that was made early in life, it is very difficult to heal. And now I am afraid that I am doing the same thing to my kids. I hope I am not.”

 

“If you have some time, would you lend me your ears? All of this is suffocating. I can't breathe. You are the only one I’ve been able to open up to. Where did you go? To all the warriors out there, let's hold hands and be each other’s strength. You are worth it! I wish they knew how hard life is for me these past few years. How lonely I am. How I afraid that my life ends without anyone even notice. I want to yell as loud as I can.”

 

“Since I was 6, I wanted to die when my religion teacher taught me about the afterlife. I wanted to die before I could commit more sin. It was an innocent statement, yet enough to raise an alarm when it comes from a 6-year-old. They only consoled me. When I was 22, I find myself buried deep in self loathe. Of never feeling enough. Of being a terrible person. So day after day, I lived with suicidal thoughts and what ifs.”

 

“You know the feeling when you want to end it all but you can't because you still carry big ass responsibilities? My mom said she wants to leave my dad as soon as I got a stable job. We have nothing now; no house, no car, even no tuition fee for my brother, how can I just took my mom and my brother without actually provide them a nice and comfy life that my dad failed to gave us? I have no one to share this burden. I have no” real” friends. I’m afraid of commitment. I am not ready. Help.”

 

“I realized I was depressed since I was in middle school. Never been officially (medically) diagnosed of course, because I was born in a pretty conservative family where they think that depression is a sign of weakness and we can just 'get over it' if we're strong enough.

My grades took a hit, and I got depressed even more because my grades got hit, and my grades got even lower because I got even more depressed. I tried killing myself for a total of 5 times now, and in all but one attempts I failed. I am still filled with depression, anxiety, suicidal thoughts, and self-hatred. Even if the results are still yet to be seen. I want you to know, I'm trying.”

 

“Short story, I was molested when I was around 9 or 10 by a Quran teacher at a mosque—someone that basically I can trust. That time I didn’t understand what he did, but once I do, I talked to my mom. Her response hurt me. I have PTSD thanks to that, that also led me to social anxiety, especially in trusting people and interacting with men. I can’t have a man touching me. I’s freak out right away. I’m seeing a therapist biweekly and she is helping me to accept myself but I’m not sure if I can do that anytime soon. It is just... hard.”

 

“I have been struggling with suicidal thoughts for almost 10 years. The first few years I wasn't even aware that I have a problem--until I was 21 and tried to get a tool to end everything. I ended up not getting the tool, opting to go to my friend and for the first time in my life, I told someone that I wanted to die. I am blessed to have people like her in my life, people who care enough to cast aside their judgement and willing to listen, while not forgetting to help me change. I hope everyone struggling can have at least one person like that.”

 

“pada awal tahun 2019, ketika saya berumur 17 thn, saya terdiagnosa dengan depresi dan jujur hal itu sangat mempengaruhi hidup saya. perkuliahan saya kacau, saya tidak memiliki semangat hidup. tidak jarang saya berpikiran untuk mengakhiri hidup. saya sangat berharap bahwa masyarakat dapat lebih peduli dan saling membantu, serta mengetahui bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. saya juga ingin agar obrolan dan topik mengenai penyakit mental serta bunuh diri bukanlah suatu hal yang tabu, karena dengan adanya kesadaran masyarakat dapat menyelamatkan seseorang dengan penyakit mental dan suicidal.”

 

“Saya meninggalkan tanggungjawab saya sebagai mahasiswa dan mengurung diri dalam kesendirian. Saya didiagnosis dengan Depresi dan Kecemasan Sosial di masa ketika saya harusnya mampu berkarya dan berprestasi. Belum pernah saya merasa sesendiri ini dan seputus-asa ini dalam hidup saya. Hidup di lingkungan yang meremehkan gangguan kejiwaan membuat saya sulit untuk terbuka, yang dipersulit oleh gender saya yang diekspektasikan untuk tegar dan tidak cengeng. Mereka sibuk men-judge dan menasihati tanpa paham yang sesungguhnya saya butuhkan adalah telinga yang bersedia mendengar dan kedua tangan yang mau merangkul dalam kehangatan.”

 

 “Saya dulu di rundung waktu SD, hanya krn saya tidak suka bermain bola, dan di panggil banci. Saya tidak pernah bercerita ke keluarga saya, bapak dan ibu saya tidak tahu hal itu sampai saat ini. Saya sering merasa panik saat menjalani koas saat ini, dan keluarga saya juga tidak pernah tahu. Suatu hari saya katakan pada mereka bahwa saya lelah dan ingin beristirahat, mereka katakan saya tidak bisa beristirahat. I wish they knew kalau anak mereka butuh ditanya kabarnya, sejak kecil.”

  

"Dahulu waktu saya SD saya pernah di bully hanya karena saya bisa mendaftar bimbel di tempat yang bagus dan nilai saya juga meningkat dikelas. hanya karena hal sepele itu saya pernah ditinggalkan seorang diri dikelas dan ternyata teman terbaik saya yang membuat saya mengalami hal mengerikan itu. Waktu itu saya belum begitu paham apa itu depresi atau rasa ingin bunuh diri, hingga setiap pulang sekolah saya selalu menangis sendiri dikamar. Ternyata hal itu membawa kebiasaan buruk hingga sekarang, setelah dewasa aku menjadi orang yang tak tahu apa apa, tak punya teman untuk diajak berbagi dan dibagi. Rasanya seolah dunia tidak memihakku. Aku mulai tertawa sendiri dan menagis secara tiba2, aku gila rasanya. Aku hanya ingin mengakhiri ini semua. Tak adakah yang bisa menolongku? Aku ingin hidup tetapi pikiranku selaku berkata sebaliknya."

 

"Seandainya mereka tahu bahwa aku ada disini. Bahwa aku juga hidup didunia yang sama dengan mereka. Memiliki bentuk fisik yang lengkap dengan bayangannya. Tetapi mengapa kalian selalu memperlakukanku seperti ini. Seolah aku hidup sebagai bayangan kalian. Aku lelah harus hidup seperti ini. Tak bisakah kalian berhenti menyiksaku. Jika tidak, maka aku yang akan dengan senang hati berhenti dari semua ini. Tenang saja, aku tak akan menulis surat wasiat yang berisi kesalahan kalian. Aku hanya akan menulis "Semoga tak ada lagi 'XXXX' lainnya."

 

"Saya adalah seorang anak yang terlahir dan dibesarkan di keluarga yang penuh dengan perceraian dan perselingkuhan. Saya khawatir memiliki pasangan dan keluarga baru justru menimbulkan masalah baru atau kehadiran saya membuat kehidupan keluarga orang lain menjadi tidak bahagia kareba masuk ke dalamnya. Terlebih, karena stress saya sedari kecil melampiaskannya dengan masturbasi dan sepertinya akibat hal tersebut ada masalah dengan alat kelamin saya."

 

"saya boleh capek, kan? saya capek melihat kelakuan adik perempuan saya. saya capek dengan diri saya sendiri. tubuhnya penuh luka, entah bagaimana batinnya. tidak punya tujuan hidup. cita-citanya hanya ingin mati dan tidak dimakamkan, namun dibakar. sangat takut dengan "cinta" dan segala tetek bengeknya karena ia percaya, tidak ada yang sudi mencintai dan menjaganya."

 

 

"Dua bulan sebelum Ujian Nasional, orangtuaku akhirnya berpisah. Aku senang karena ibuku terbebas dari ayahku beserta keluarganya. Dampaknya, ayahku membenciku. Diantara kelima saudara, hanya aku yang tidak dianggap sebagai anak. Aku tidak peduli dan tetap setia mendampingi ibuku di tiap sidang perceraian. Aku dengan mental yang ambruk jadi suka lari meninggalkan kelas. Efeknya banyak kelas yang failed. Dan harus mengulang. Lalu aku tambah tertekan. Pulang dan harus menghibur ibuku. Semakin tertekan. Ibuku yang sudah merasa lebih baik lalu dijahati lagi. Aku makin jatuh lagi. Tapi tidak ada yang peduli padaku."

 

 

"Akhir-akhir ini saya mulai merasakan ada yang aneh pada diri saya sendiri. benci melihat diri sendiri, hampa dan terus berpikiran untuk bunuh diri. Dosen wali atau pembimbing mengatakan bahwa saya tidak akan bisa diterima kerja dimanapun, dan beliau bilang secara terang-terangan bahwa saya akan gagal.  Saya sangat hancur waktu itu, saya pulang dari kampus menahan tangis dan sesak. Dan itu alasan saya tidak siap untuk bertemu lagi, karena permasalahan keluarga yang saya rasakan membuat saya depresi. Saya hanya ingin semuanya diperbaiki, dan hanya butuh sedikit motivasi dari kedua orang tua saya."

 

"Masih sampai saat ini saya terkukung dalam kesedihan dan overthinking tak berujung.  Jika saya dirundung sedih dan suicide thoughts yang amat dalam, saya menuliskan kata-kata penyemangat, membacanya berulang kali, sembari berdoa. Jika suatu hari ada kesempatan ibu saya tahu, saya berharap dia menerima saya bukan karena keberhasilan/ prestasi saya tapi sebagaimana-adanya saya sebagai manusia dan anaknya yang terus mau berusaha dengan caranya sendiri."

 

"Bapak penjaga parkir di Salah satu stasiun tempat Saya biasa berangkat dan pulang kuliah pada suatu sore setelah kegagalan Saya yang ke-sekian tiba-tiba menyemangati saya saat saya hendak membayar parkir. Beliau hanya bilang, " Semangat ya, jangan putus asa. " Saya menahan tangis sepanjang perjalanan pulang karena kata-kata Bapak itu.Sekarang sudah dua tahun sejak Saya sudah menyelesaikan segala aktifitas akademis Saya di kampus dan sampai sekarang masih terus merasa berterima kasih pada Bapak penjaga parkir itu yang kebaikan hati nya telah membantu Saya bertahan."

 

"Saya adalah seorang mahasiswi psikologi yang sangat amat takut terhadap kematian. Ketakutan ini membuat saya enggan pergi ke kuburan atau melayat bahkan mendengar proses kematian seseorang sebab hal itu membuat saya cemas dan takut. Saya tidak dapat tidur, tidak berani masuk ke toilet dan menjadi takut terhadap penyebab kematian seseorang."